17.mau pidato..?

15 Mar 2009

….saya atas nama keluarga besar Profesor Doktor Purbocaroko, menyerahkan seikat lontar sebagai salah satu warisan budaya untuk dipelajari, diteliti dan dimanfaatkan hasilnya semaksimal mungkin untuk kepentingan ilmu pengetahuan, semoga memenuhi harapan pengarangnya sebagai sumber inspirasi untuk menelaah masa depan serta meningkatkan budaya manusia yang lebih berkualitas berakal sehat dan berbudi luhur…..

nus1

Nus Bramantyo

Demikian cuplikan awal pidato Ir RA.Nus Purnadiyah (mba Nus, putra Prof Sukropurnadi SH, cucu Prof Dr RNg Purbocaroko, cicit eyang Puger) dihadapan Rapat Senat Terbuka Fakultas Ilmu Budaya UGM dalam rangka Dies Natalis ke 63 pada hari Selasa, 03 Maret 2009 di Yogyakarta yang dihadiri Ketua Senat dan Rektorat UGM serta guru besar, mahasiswa dan kalangan akademisi.

Setelah terkantuk-kantuk mendengarkan pidato sebelumnya, hadirin sempat terkesima melihat seorang wanita cantik berjalan menuju podium mengenakan kebaya putih dan jarik bermotif dasar coklat bertabur bunga warna putih berselendang warna merah muda ngejreng. Beberapa mahasiswa yang duduk dibarisan belakang yang tadinya pada ngobrol dengan teman sebelahnya mendadak mengusap-usap mata dan menegakkan duduknya, demikian juga dosen dan undangan yang sudah lelah setelah sekian jam mendengarkan pidato serta merta terkesima dan semua memandang sang juwita di podium yang mulai gilirannya berpidato. Dialah Nus Bramantyo, dengan lugas dan percaya diri yang kuat membaca naskah pidatonya. Nus dengan tekadnya bersama suami, mertua, adik-adik, pakde Dikno dan saudaranya berangkat ke kampus UGM Jogja dengan membawa buku-buku warisan peninggalan sang kakek alm.Purbocaroko untuk diserahkan ke UGM.

nus2

mb Nunik, mas Widi, mb Nus, pakde Dikno

Ruangan itu mejadi hening manakala semua hadirin mendengarkan ucapan, kisah dan ceritera tentang sang kakek yang mungkin baru kali itu mereka dengar. Nus tidak hanya menceriterakan siapa sebenarnya Purbocaroko itu yang masih keturunan ningrat dari keraton Solo dan keraton Jogja, tapi juga mengungkap kisah cinta sang kakek dengan putri keraton nan cantik salah satu anak GPH.Puger. Sebagai tanda cinta yang tulus dari seorang carik penjaga musium, Purbocaroko berangkat ke negri Belanda untuk menuntut ilmu. Setelah selesai menuntaskan kuliahnya disana dan mendapat gelar doktor, Purbocaroko kembali ke Jogja dan mempersunting putri keraton yang bernama Raden Ayu Roosinah dan diterima menjadi menantu GPH.Puger. Dikemudian hari nama Prof Dr Purbocaroko - orang kedua yang mendapat gelar doktor di universitas Leiden Belanda - diabadikan sebagai nama salah satu gedung di Fakultas Ilmu Budaya UGM yang ternyata kami semua baru mengetahuinya. Salah satu bukunya yang cukup dikenal adalah Riwayat Indonesia.

Diakhir pidatonya, Nus mendapat aplaus yang sangat meriah dari para hadirin kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan serah terima buku-buku itu dengan pihak UGM. Copy naskah pidatonya banyak diminta mahasiswa dan kalangan akademisi. Nus baru membuat naskah pidato berdurasi 15 menit itu pada tengah malam menjelang esok hari dibacakannya pada acara Dies Natalis itu dengan tulisan tangannya. Menakjubkan…. (rinang pramito)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive